JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menuntaskan fase penting transformasi bisnis pada 2025 dengan melakukan strategic repositioning portofolio menuju sektor rendah karbon.
Langkah ini dirancang untuk memperkuat fondasi keuangan sekaligus membangun struktur bisnis yang lebih resilien dan berdaya saing global.
Direktur TBS, Juli Oktarina, menjelaskan, “Setelah strategic repositioning pada fondasi bisnis kami di 2025, kami antusias menyambut tahun 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan - pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik - yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara,” ujarnya.
Baca JugaBisnis Rendah Karbon TBS Dorong Ketahanan Energi dan Ekonomi Nasional
Fokus pada sektor rendah karbon menjadi strategi penting TBS untuk menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus membuka peluang ekspansi di pasar internasional. Transformasi ini sejalan dengan tren global menuju ekonomi hijau dan energi bersih.
Kinerja Keuangan dan Operasional Tetap Solid
Sepanjang 2025, TBS menata ulang portofolio secara menyeluruh untuk memperkuat kualitas neraca dan menggeser fokus bisnis ke sektor dengan profil pendapatan lebih stabil serta valuasi jangka panjang lebih tinggi.
Secara operasional, perusahaan mencatat kinerja solid dengan EBITDA Disesuaikan sebesar USD47,2 juta, sementara posisi kas tercatat sehat di USD102,3 juta, naik 15% dibandingkan 2024. Data ini menunjukkan disiplin eksekusi perusahaan di tengah perubahan komposisi portofolio.
Tonggak strategis lainnya adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment, yang kini beroperasi sebagai Cora Environment. Akuisisi ini memperkuat posisi TBS sebagai pemain utama dalam pengelolaan limbah di Singapura sekaligus memperluas kapasitas aset untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Kontribusi pendapatan dari bisnis pengelolaan limbah tercatat sebesar USD155,4 juta, atau sekitar 41% dari total pendapatan perseroan. Sementara segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan USD194,6 juta, turun signifikan dibandingkan kontribusi 81% tahun sebelumnya.
Kerugian Bersih dan Strategi Diversifikasi
Meski mencatat EBITDA positif, TBS membukukan rugi bersih sebesar USD162 juta pada 2025. Kerugian ini dipengaruhi penurunan harga batu bara global serta kerugian non-kas dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar USD97 juta, sebagai bagian dari strategi transisi menuju bisnis rendah karbon.
Juli Oktarina menekankan, strategi diversifikasi bisnis menjadi kunci menjaga ketahanan perusahaan di tengah volatilitas pasar energi global.
“Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Strategi ini menekankan pentingnya transisi bisnis yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang ekspansi global bagi perusahaan di sektor energi terbarukan dan layanan lingkungan.
Dekarbonisasi dan Peta Jalan TBS2030
Transformasi TBS juga selaras dengan peta jalan TBS2030, yang menargetkan netral karbon pada 2030. Perseroan telah menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit, atau sekitar 1,4 juta ton CO? per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
Selain itu, TBS meluncurkan Climate Transition Plan pada November 2025, sebagai panduan dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan. Rencana ini mencakup strategi pengurangan emisi, pengembangan energi bersih, serta penguatan aset rendah karbon.
Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan perusahaan tetap kompetitif, berkelanjutan, dan relevan di pasar global yang menuntut energi bersih dan efisiensi tinggi.
Transformasi portofolio dan inovasi teknologi menjadi fondasi pertumbuhan bisnis hijau jangka panjang TBS, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional dan target pembangunan rendah karbon di Indonesia.
Dengan strategi ini, TBS memperkuat fondasi untuk menghadapi tantangan global, sekaligus menegaskan posisi perusahaan sebagai pemain utama di sektor energi hijau dan pengelolaan limbah, yang memiliki potensi pertumbuhan signifikan di tingkat regional maupun internasional.
Sindi
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prabowo Bahas Ketahanan Pangan dan Energi Saat Ratas Hambalang Jelang Lebaran
- Selasa, 10 Maret 2026
Berita Lainnya
Prabowo Bahas Ketahanan Pangan dan Energi Saat Ratas Hambalang Jelang Lebaran
- Selasa, 10 Maret 2026
Beredar Jadwal Pendaftaran CPNS 2026 di Media Sosial, Ini Klarifikasi BKN
- Selasa, 10 Maret 2026







