Breaking

Festival Transmigrasi 2026 di Rempang Eco City Batam, Mentrans Iftitah Tawarkan Strategi Ada Gula Ada Semut

RE
Senin, 12 Oktober 2026
Festival Transmigrasi 2026 di Rempang Eco City Batam, Mentrans Iftitah Tawarkan Strategi Ada Gula Ada Semut

BATAM — Kawasan Rempang Eco City di Tanjung Banon menjadi tuan rumah Festival Transmigrasi 2026 yang digelar Kementerian Transmigrasi. Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebut festival ini sebagai pengejawantahan strategi "ada gula, ada semut" dalam mengembangkan wilayah transmigrasi.

Menurut Iftitah, kawasan transmigrasi harus lebih dulu memiliki aktivitas ekonomi yang nyata sebelum menarik warga untuk datang dan menetap. Festival dengan segala kegiatan di dalamnya dianggap sebagai salah satu bentuk "gula" yang disiapkan pemerintah.

"Jadi kita punya strategi 'ada gula, ada semut'. Kita cetak gulanya terlebih dahulu supaya semutnya datang. Acara Festival Transmigrasi seperti ini, ini sebenarnya juga adalah pengejawantahan bahwa kalau ada aktivitas ekonominya, masyarakat juga akan berbondong-bondong datang kemari," ujar Iftitah.

Sosialisasi Beasiswa Jerman Tarik Ratusan Warga Batam

Salah satu agenda yang menyedot perhatian dalam festival itu adalah sosialisasi pengenalan beasiswa kuliah di Jerman hasil kerja sama dengan Technical University of Munich (TUM). Iftitah menyebut ratusan orang dari Batam hadir langsung ke kawasan transmigrasi untuk mendengar informasi tersebut.

"Kami bersyukur, sejak kemarin kami sudah membuka Festival Transmigrasi ini dengan sosialisasi pengenalan beasiswa untuk kuliah di Jerman, dari rekan-rekan teman-teman sahabat dari negara sahabat dari Jerman, dari TUM, Technical University of Munich, dijelaskan bahwa kesempatan pendidikan di Jerman itu luas sekali," kata Iftitah.

Dia menambahkan, warga Kota Batam yang ingin melanjutkan pendidikan ke Jerman mendapat informasi cukup lengkap, termasuk pengalaman langsung dari pihak TUM. Antusiasme itu disebutnya melampaui keraguan awal soal jalannya acara.

Empat Masukan Akademisi TUM untuk Tanjung Banon

Kehadiran akademisi dari TUM tidak hanya soal beasiswa. Iftitah menyebut ada empat masukan pengembangan Tanjung Banon yang disampaikan para akademisi tersebut, mulai dari manajemen lahan dan agroforestri, isu lingkungan, komunitas, hingga saran pengembangan pariwisata bahari sebagai aktivitas ekonomi.

"Ada empat tadi masukan dari mereka yang sangat baik sekali. Terkait dengan manajemen lahan, termasuk agroforestri. Kemudian yang kedua juga terkait dengan isu lingkungan. Kemudian yang ketiga dengan komunitas, dan yang keempat tentang aktivitas ekonomi yang mereka sarankan adalah pariwisata bahari," papar dia.

Masukan itu akan dikembangkan bersama Tim Ekspedisi Patriot yang lebih dulu hadir di kawasan, melibatkan akademisi dari UI, IPB, ITS, dan ITB. Iftitah menilai pertemuan generasi muda di kawasan transmigrasi itu menghasilkan banyak ide yang layak ditindaklanjuti.

Dari Ide ke Implementasi: Fokus Pemberdayaan Warga

Iftitah menegaskan, hasil festival tidak berhenti pada tataran gagasan. Kementerian Transmigrasi, kata dia, sudah membicarakan langkah implementasi bersama Direktorat Jenderal terkait agar masyarakat di satuan permukiman Tanjung Banon, Rempang Eco-City, bisa mandiri.

"Dan tentu saja, setelah ini kita tidak berhenti hanya di ide, tapi kita sudah bicarakan juga dengan Pak Direktur Jenderal tadi untuk diimplementasikan, digerakkan masyarakat untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan yang ada di satuan permukiman di Tanjung Banon ini, Rempang Eco-City, agar mereka bisa-bisa betul-betul mandiri," ujar Iftitah.

Akademisi dari Jerman, lanjutnya, menekankan bahwa pembangunan kawasan tidak harus bergantung pada pemerintah. Yang paling penting adalah memberdayakan dan memampukan masyarakatnya sendiri.

Iftitah memaknai transmigrasi bukan lagi sekadar perpindahan penduduk, melainkan misi kemanusiaan untuk kehidupan yang lebih baik. "Jadi kita ingin ke depan, mudah-mudahan apa yang kita konsepkan dengan strategi 'ada gula dan ada semut', dengan kita konsepkan bahwa masyarakat juga berpindah meskipun dalam area yang sama, itu dalam rangka kehidupan yang lebih baik," kata dia.

Sumber: liputan6.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua