Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau Tanam 500 Hektare Mangrove di Kuala Selat, Pulihkan 1.700 Hektare Kebun Terdampak Abrasi
INDRAGIRI HILIR — Perjalanan menuju lokasi terdampak abrasi di Kuala Selat bukan perkara mudah. Dari Mako Polsek Kateman, rombongan harus menempuh 25 kilometer atau 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat, melewati jalur perairan yang sangat dipengaruhi pasang-surut. Di kawasan pantai, lumpur setinggi lutut hingga paha menjadi tantangan tersendiri bagi para pejabat yang turun langsung ke lapangan.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wakil Menteri PPA/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, dan Bupati Indragiri Hilir Herman hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka disambut Forkopimda, masyarakat, serta anak-anak sekolah setempat.
Komitmen Rehabilitasi: Dari 500 Menjadi 1.000 Hektare
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan komitmennya mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan terdampak abrasi. Ia berharap luasannya bisa diperluas hingga 1.000 hektare sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi masyarakat.
"Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini," ujarnya.
Jumhur menegaskan program ini merupakan tindak lanjut dari gerakan Ekspedisi Merah Putih Presisi yang digerakkan Kapolda Riau di Kabupaten Indragiri Hilir. Rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman, tetapi mencakup pembibitan hingga pemeliharaan selama tiga tahun.
Mangrove Bukan Sekadar Tanam, Ada Upah untuk Warga
Menteri Jumhur memastikan program pemulihan ini akan menciptakan lapangan kerja hijau atau green jobs bagi masyarakat sekitar. Mulai dari proses pembibitan, penanaman, sampai pemeliharaan mangrove semuanya teranggarkan dengan baik.
"Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun," katanya.
Skema ini dirancang agar keberlanjutan ekosistem mangrove terjaga, sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi warga yang selama ini kehilangan sumber penghidupan akibat abrasi.
Kehadiran Negara di Wilayah Terluar
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan ekspedisi ini adalah ikhtiar menghadirkan negara hingga ke wilayah pesisir. Ia menyebut abrasi bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi menyangkut ruang hidup dan masa depan generasi berikutnya.
"Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya," kata Herry.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan menyerahkan bantuan sembako, bantuan ketinting, serta matching grants kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau. Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen menjaga pesisir Riau dan penanaman mangrove bersama.
Abrasi 2021: 1.700 Hektare Kebun Warga Hancur
Desa Kuala Selat menjadi salah satu titik terparah abrasi di Riau. Data mencatat sekitar 1.700 hektare kebun masyarakat di wilayah tersebut terdampak pada 2021. Kondisi ini memaksa warga kehilangan mata pencaharian dan ruang tinggal secara perlahan.
Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Program ini menyasar wilayah pesisir, terluar, dan kawasan yang memiliki keterbatasan akses dengan membawa misi kebangsaan, kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.