Teknologi ABS di Motor 125 cc ke Atas Dinilai Bisa Selamatkan 111.163 Nyawa hingga 2045
NAVIGASI.CO.ID — Kajian Institut Teknologi Bandung memperkirakan penerapan teknologi pengereman ABS pada sepeda motor baru berpotensi mencegah 26.679 hingga 111.163 kematian akibat kecelakaan lalu lintas hingga 2045. Rekomendasi ini muncul saat angka kematian kecelakaan jalan raya nasional pada 2024 tercatat 26.839 jiwa, naik 6,2 persen dibanding 2021. Hasil riset bersama Pijar Foundation itu sudah diserahkan ke Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan sebagai bahan kebijakan.
Institut Teknologi Bandung menilai target pemerintah menekan angka kematian kecelakaan jalan raya menjadi 15.160 orang pada 2030 menghadapi tantangan berat. Salah satu intervensi yang dikaji adalah kewajiban teknologi pengereman pada sepeda motor baru.
Peneliti ITB Sony Sulaksono Wibowo menyebut upaya keselamatan harus dimulai dari akar masalahnya, yakni potensi bahaya kendaraan itu sendiri. Sepeda motor jadi perhatian utama karena perannya besar dalam mobilitas harian sekaligus dominan dalam data kecelakaan.
"Keselamatan itu dari akar, memperbaiki hazard. Potensi hazard dari roda dua adalah kendaraannya. Makanya kami dari ITB mencoba melakukan kajian sistem keselamatan," kata Sony.
Roda Dua Mendominasi Kecelakaan di Indonesia
Data dalam kajian itu menunjukkan sepeda motor mencakup 84 persen kendaraan terdaftar di Indonesia. Dari lebih dari 149 ribu kecelakaan yang terjadi setiap tahun, sekitar 73 persen melibatkan kendaraan roda dua.
Angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang 2024 tercatat 26.839 jiwa. Jumlah itu naik 6,2 persen dibandingkan 2021, memperkuat urgensi intervensi teknis pada armada roda dua.
Beda Cara Kerja CBS dan ABS
Kajian ITB membandingkan dua sistem pengereman yang kini beredar di pasar. CBS menyalurkan gaya pengereman ke roda depan dan belakang secara bersamaan, tetapi tidak mencegah roda terkunci.
ABS bekerja berbeda. Sistem ini mengatur tekanan pengereman secara otomatis agar roda tidak terkunci saat pengendara mengerem keras, sehingga kendali kendaraan tetap terjaga.
Selisih waktu reaksi jadi alasan utama. Roda sepeda motor bisa terkunci dalam waktu kurang dari 0,2 detik, sedangkan manusia rata-rata butuh sekitar 0,75 detik untuk bereaksi saat panik.
Dua Skenario Penerapan Mulai 2027
ITB menyusun dua skenario penerapan teknologi pengereman yang dimulai pada 2027. Skenario pertama mewajibkan ABS untuk motor di atas 125 cc, sementara motor 125 cc ke bawah boleh memakai ABS atau CBS.
Skenario kedua lebih ketat: seluruh sepeda motor baru wajib dilengkapi ABS. Kelompok motor 125 cc ke bawah sendiri mencakup 76 persen armada nasional, sehingga pilihan skenario berdampak besar pada cakupan perlindungan.
Perbedaan skenario itu yang membuat rentang potensi penyelamatan nyawa cukup lebar, dari 26.679 hingga 111.163 kematian yang bisa dicegah sampai 2045.
Tanpa Perubahan, Kematian Diproyeksi Naik
Riset yang sama memproyeksikan angka kematian mencapai 31.733 jiwa per tahun pada 2045 bila tidak ada perubahan kebijakan. Angka itu jauh di atas target 11.679 jiwa pada periode yang sama.
Anggota Komisi V DPR RI Sofwan Dedy Ardyanto menilai ABS bisa jadi solusi jangka pendek untuk menekan kecelakaan sepeda motor.
"Untuk menyelesaikan persoalan kecelakaan bersepeda motor, saya sepakat ABS adalah solusi untuk saat ini atau jangka pendek," ujarnya.
Hasil riset dan rekomendasi kebijakan tersebut diserahkan Pijar Foundation bersama ITB kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Dokumen itu diharapkan jadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan keselamatan jalan, termasuk kemungkinan mengatur teknologi pengereman pada motor baru mulai 2027.