Deputi Gubernur BI Tegaskan Sistem Perbankan Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Eksternal dan Likuiditas Terjaga

Deputi Gubernur BI Tegaskan Sistem Perbankan Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Eksternal dan Likuiditas Terjaga
Deputi Gubernur BI Tegaskan Sistem Perbankan Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Eksternal dan Likuiditas Terjaga

JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono menegaskan bahwa posisi likuiditas dan permodalan industri perbankan nasional tetap kuat meskipun menghadapi berbagai tekanan eksternal, sebagaimana terungkap dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI terbaru. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar secara virtual pada Kamis malam di Jakarta, ketika Thomas tampil untuk pertama kalinya dalam RDG sebagai pejabat baru di lingkungan bank sentral.

Ketahanan Perbankan Terbukti dari Hasil Uji Tekanan Likuiditas

Thomas memaparkan bahwa ketahanan sektor perbankan dapat dilihat dari hasil liquidity stress test yang dilakukan oleh Departemen Surveilans Makroprudensial, Moneter, dan Pasar (DSMM). Menurutnya, hasil itu menunjukkan bahwa perbankan nasional mampu mempertahankan kondisi kas dan ketersediaan aset lancar meskipun dihadapkan pada skenario tekanan eksternal.

Baca Juga

Bank Indonesia Klaim KLM Efektif Turunkan Suku Bunga Kredit

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa hasil uji tersebut mencerminkan kuatnya likuiditas dan permodalan bank-bank di Indonesia, sekaligus menjadi landasan BI dalam menyampaikan kepada publik dan pemangku kepentingan bahwa sistem keuangan tetap berada dalam posisi sehat. Pernyataan ini sekaligus menepis kekhawatiran mengenai potensi risiko sistemik menyusul dinamika pasar global yang masih fluktuatif.

Koordinasi Kebijakan Untuk Menguatkan Narasi Ekonomi

Selain menekankan ketahanan likuiditas, Thomas juga menyampaikan bahwa Bank Indonesia kini tengah mempersiapkan upaya koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk memperkuat narasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat keyakinan investor dan lembaga pemeringkat kredit terhadap prospek ekonomi nasional.

Thomas menggarisbawahi pentingnya sinergi antarlembaga dalam menghadapi dinamika perekonomian global. Hal ini dinilai bisa menjadi dasar yang kokoh dalam upaya menjelaskan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia kepada pihak-pihak yang berkepentingan, di tengah ketidakpastian pasar yang berlangsung saat ini.

Peran Perdana Thomas di Dewan Gubernur BI

Penampilan Thomas dalam RDG menjadi sorotan karena ini merupakan debutnya sebagai Deputi Gubernur BI setelah dilantik pada 9 Februari 2026. Ia menggantikan posisi yang sebelumnya diemban oleh Juda Agung, yang mengundurkan diri dan kini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Dalam konferensi pers tersebut, Thomas juga menegaskan bahwa keberadaannya di bank sentral tidak akan mengurangi independensi lembaga moneter. Ia menyatakan bahwa ia berperan sebagai komunikasi publik dan koordinasi, dengan tetap menghormati prinsip-prinsip independensi dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia.

Kondisi Moneter dan Stabilitas Ekonomi Lebih Luas

Keberhasilan dalam mempertahankan likuiditas dan permodalan perbankan juga berkaitan erat dengan keputusan Bank Indonesia dalam mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada RDG yang digelar pada 18–19 Februari 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2026 mencapai 9,96 persen secara tahunan (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan dengan Desember 2025, yang menunjukkan bahwa intermediasi perbankan tetap berjalan kuat. Indikator likuiditas seperti rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga tetap tinggi, diikuti pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencerminkan kapasitas pembiayaan yang memadai di sektor perbankan nasional.

Tanggapan Publik dan Tantangan Ke Depan

Pernyataan Thomas sekaligus menjadi respons terhadap berbagai sentimen yang sempat berkembang di publik terkait penunjukannya sebagai Deputi Gubernur BI. Meski terdapat kekhawatiran di beberapa pihak soal latar belakangnya yang sebelumnya aktif di pemerintahan, Thomas berharap bahwa fakta di lapangan terkait kinerja dan profesionalisme akan menjadi bukti nyata komitmennya terhadap stabilitas ekonomi.

Para analis ekonomi menilai pentingnya peran BI dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama dalam konteks menjaga likuiditas perbankan yang kuat, meskipun dinamika eksternal dapat terus memberikan tantangan bagi perekonomian domestik. Kondisi tersebut mengharuskan sinergi kebijakan yang solid dan komunikasi efektif agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Dengan demikian, pernyataan Thomas Djiwandono menegaskan bahwa meskipun tantangan eksternal dan ketidakpastian global masih membayangi, fundamental industri perbankan Indonesia tetap kuat dan memiliki kapasitas yang memadai untuk menopang kegiatan ekonomi nasional.

Fery

Fery

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

TVS Motor Indonesia Konsisten Tumbuh Dengan Produksi 1 Juta

TVS Motor Indonesia Konsisten Tumbuh Dengan Produksi 1 Juta

Amdatara Usulkan Jalur Logistik Khusus Dukung Zero ODOL 2027

Amdatara Usulkan Jalur Logistik Khusus Dukung Zero ODOL 2027

Freeport Perpanjang Izin, Uji Konsistensi Hilirisasi dan Manfaat Ekonomi

Freeport Perpanjang Izin, Uji Konsistensi Hilirisasi dan Manfaat Ekonomi

Bank Indonesia Klaim KLM Efektif Turunkan Suku Bunga Kredit

Bank Indonesia Klaim KLM Efektif Turunkan Suku Bunga Kredit

KB Bank dan BNI Asset Management Hadirkan Reksadana Di Kantor Cabang

KB Bank dan BNI Asset Management Hadirkan Reksadana Di Kantor Cabang