Breaking

Subsidi LPG 3 Kg dan Listrik Rp 244,2 Triliun di RAPBN 2027, Pemerintah Andalkan DTSEN untuk Perbaiki Sasaran

RE
Selasa, 18 Agustus 2026
Subsidi LPG 3 Kg dan Listrik Rp 244,2 Triliun di RAPBN 2027, Pemerintah Andalkan DTSEN untuk Perbaiki Sasaran
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan alokasi subsidi energi sebesar Rp 272,95 triliun dalam RAPBN 2027.

RIAU — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan, dari total subsidi energi yang mencapai Rp 272,95 triliun, alokasi terbesar jatuh pada subsidi listrik senilai Rp 130,1 triliun. Subsidi LPG tabung 3 kilogram mendapat jatah Rp 114,1 triliun, sementara subsidi untuk BBM tertentu hanya Rp 28,7 triliun. Sisanya, Rp 114,9 triliun, dialokasikan untuk subsidi non-energi seperti pupuk dan bunga KUR.

Mengapa Anggaran Subsidi Justru Naik?

Kenaikan belanja subsidi ini bukan tanpa alasan. Purbaya menjelaskan, anggaran tersebut diarahkan untuk mengakselerasi penurunan kemiskinan dan menghapus kemiskinan ekstrem. Kuncinya ada pada presisi data.

"Dan menajamkan akurasi data penerima subsidi dan bansos agar lebih tepat sasaran," kata dia, Senin (17/8/2026).

Dengan basis data tunggal (DTSEN), pemerintah berharap subsidi tidak lagi bocor ke masyarakat mampu. Targetnya, program graduasi kemiskinan bisa berjalan, di mana penerima manfaat bertahap naik kelas menjadi mandiri.

Lonjakan Subsidi Listrik dan LPG 3 Kg

Data Kementerian Keuangan menunjukkan tren kenaikan yang konsisten untuk dua komoditas ini. Realisasi subsidi listrik rata-rata tumbuh 12,9 persen per tahun sejak 2022. Pada 2022, realisasinya Rp 56,24 triliun, lalu melonjak menjadi Rp 81,03 triliun pada 2025, dan diperkirakan tembus Rp 110,41 triliun pada outlook 2026.

Pemicunya bukan hanya volume pemakaian, tetapi juga fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan nilai tukar rupiah. Hal serupa terjadi pada LPG 3 kg. Volume penyalurannya naik dari 7,8 juta metrik ton pada 2022 menjadi 8,5 juta metrik ton pada 2025. Meski kuota outlook 2026 ditetapkan 8,0 juta metrik ton, realisasinya kerap melampaui kuota karena permintaan yang tinggi.

BBM Bersubsidi: Kuota Solar dan Minyak Tanah

Berbeda dengan listrik dan LPG, subsidi BBM tertentu justru menunjukkan tren yang lebih terkendali. Realisasi subsidi untuk solar dan minyak tanah tercatat Rp 115,61 triliun pada 2022, turun menjadi Rp 104,13 triliun pada 2025, dan diproyeksikan Rp 116,85 triliun pada outlook 2026.

Pemerintah juga menyesuaikan besaran subsidi solar. Pada 2022, subsidi per liternya Rp 500, lalu naik menjadi Rp 1.000 per liter pada periode 2023-2026. Untuk kuota penyaluran, solar subsidi dipatok 18,6 juta kiloliter pada 2026.

Sementara itu, volume penyaluran minyak tanah terus meningkat—dari 488,5 ribu kiloliter pada 2022 menjadi 507,8 ribu kiloliter pada 2025. Kuota untuk 2026 diproyeksikan mencapai 526 ribu kiloliter.

Struktur belanja ini menunjukkan beban APBN yang semakin berat untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga energi global. Keberhasilan penajaman data penerima melalui DTSEN menjadi penentu apakah beban subsidi tahun depan bisa ditekan tanpa mengorbankan kelompok rentan.

Sumber: investortrust.id

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua