Breaking

Gempa NTT Lumpuhkan Listrik dan Akses Jalan di Manggarai, 12 Warga Meninggal di Kecamatan Reo

TS
Minggu, 16 Agustus 2026
Gempa NTT Lumpuhkan Listrik dan Akses Jalan di Manggarai, 12 Warga Meninggal di Kecamatan Reo
Gempa di Manggarai, NTT, menyebabkan 12 warga meninggal dunia di Kecamatan Reo dan Reo Barat.

RUTENG — Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit, mengatakan aliran listrik baru pulih Minggu (16/8/2026) malam setelah sempat padam sejak gempa terjadi. Sementara itu, akses internet dan sinyal telekomunikasi di sejumlah wilayah masih sulit diakses hingga Minggu pagi, menghambat koordinasi petugas di lapangan.

"Kemarin memang mati listrik sampai sore. Kemarin ada keterlambatan, terputus. Listrik baru tersedia tadi malam," ujar Herybertus saat dihubungi, Minggu (16/8/2026).

Longsor Tutup Jalur Ruteng-Reo, Alat Berat Belum Masuk

Akses transportasi menjadi persoalan krusial. Longsor sempat menutup total jalur Ruteng-Reo dan baru berhasil dibuka sekitar pukul 02.00 dini hari. Namun, Jembatan Wae Pesi masih belum bisa dilalui kendaraan besar.

Kapolsek Reo, Ipda Joko Sugiarto, menambahkan longsor susulan di Cibal membuat jalur dari Ruteng kembali terhambat. Akibatnya, alat berat belum dapat masuk ke Reo untuk membersihkan puing-puing rumah yang roboh.

"Rumah-rumah rubuh, kami belum melakukan pembersihan karena menunggu alat berat. Jalan longsor di Cibal, sehingga belum ada alat berat dari Ruteng," jelasnya.

12 Korban Jiwa dan Ribuan Warga Mengungsi

Berdasarkan pendataan sementara, korban meninggal dunia di Kecamatan Reo dan Reo Barat mencapai 12 orang. Rinciannya, delapan korban berada di wilayah Reo dan empat korban di Reo Barat.

Di tengah duka tersebut, proses evakuasi masih terus berjalan. Posko medis yang disiapkan pemerintah kecamatan mulai didatangi warga yang mengalami luka-luka akibat gempa.

"Untuk sementara, kita lakukan evakuasi terhadap pengungsi, buka tenda baru serta penangan medis. Sekarang banyak korban luka datangi posko medis yang disiapkan pemerintah kecamatan," kata Joko.

Ancaman Tsunami dan Kondisi Pengungsian di Reo

Pemerintah daerah sempat mengarahkan warga di wilayah utara Manggarai, khususnya Reo, untuk menuju tempat yang lebih tinggi menyusul adanya peringatan dini tsunami pada Minggu pagi. Sebagian warga kini mengungsi ke sejumlah titik, sementara lainnya memilih mendirikan tenda darurat di samping rumah.

"Sejak kemarin kami berusaha memberikan pengertian di utara ada ancaman tsunami kemarin pagi. Pagi kami arahkan naik ke tempat tinggi," ujar Herybertus.

Di Ruteng, kerusakan cukup parah melanda sejumlah kantor pemerintahan. Kondisi ini memaksa aparatur sipil negara (ASN) dan petugas penanganan bencana bekerja dari lokasi pengungsian.

Kebutuhan Mendesak: Sembako dan Perlengkapan Tenda

Kebutuhan pokok warga di lokasi pengungsian masih sangat besar. Polisi mencatat sejumlah kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi, mulai dari bahan makanan hingga perlengkapan bertahan di tenda.

"Sembako, selimut, tenda terpal, obat-obatan. Beras, mi, dan telor, sarden," sebut Joko.

Bantuan awal berupa mi instan, air minum, dan tenda terpal memang telah diterima warga. Namun, distribusi bahan pangan masih terkendala karena sebagian toko tutup pasca-gempa dan akses jalan yang terputus membuat pasokan dari luar daerah sulit masuk.

"Toko sebagian tertutup. Kendala di sembako. Sementara jalan terputus," pungkasnya.

Sumber: liputan6.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua