Menahan Amarah saat Puasa, Belajar Manajemen Emosi dari Umar bin Khattab

Menahan Amarah saat Puasa, Belajar Manajemen Emosi dari Umar bin Khattab
Menahan Amarah saat Puasa, Belajar Manajemen Emosi dari Umar bin Khattab

JAKARTA - Puasa Ramadan bukan hanya soal menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga ujian besar dalam mengelola emosi.

Lapar, haus, kelelahan, serta tekanan aktivitas harian sering kali membuat seseorang lebih mudah tersulut amarah. Di sinilah puasa menjadi sarana pendidikan jiwa, mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan kedewasaan emosi.

Islam tidak memisahkan ibadah ritual dengan pengelolaan karakter. Justru, keberhasilan puasa diukur dari sejauh mana seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu, termasuk emosi negatif. Untuk memahami hal ini, umat Islam dapat meneladani salah satu figur paling kuat dalam sejarah Islam: Umar bin Khattab ra.

Baca Juga

Jadwal Imsakiyah Surabaya Hari Ini: Waktu Subuh hingga Buka Puasa Jumat 20 Februari 2026

Sosok Umar dikenal memiliki temperamen keras sebelum Islam, namun berubah menjadi pribadi yang sangat matang secara emosional setelah mendapat hidayah. Transformasi inilah yang relevan dijadikan pelajaran dalam manajemen emosi saat puasa.

Mengapa Emosi Lebih Mudah Muncul saat Puasa?

Secara biologis, kondisi tubuh saat puasa memengaruhi stabilitas emosi. Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama berjam-jam, kadar gula darah menurun. Tubuh kemudian melepaskan hormon kortisol dan adrenalin untuk menjaga keseimbangan energi.

Dampaknya, seseorang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan cenderung bereaksi emosional. Fungsi otak pun dapat terganggu sehingga pengambilan keputusan sering kali didorong oleh perasaan, bukan pertimbangan rasional.

Namun Islam memandang puasa sebagai latihan total pengendalian diri. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berbuat sia-sia. Jika ia dicaci atau diserang, hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa mengelola emosi adalah bagian inti dari ibadah puasa.

Umar bin Khattab sebelum Islam: Emosi yang Tak Terkendali

Dalam sejarah, Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok yang keras, tegas, dan ditakuti. Ia memiliki keberanian besar, tetapi emosinya sering kali meledak-ledak. Bahkan, sebelum memeluk Islam, Umar pernah berniat membunuh Rasulullah SAW karena kebenciannya terhadap dakwah Islam.

Dalam buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan dijelaskan bahwa kemarahan yang tidak terkelola dapat menghancurkan banyak aspek kehidupan, mulai dari hubungan sosial hingga kualitas iman. Umar sebelum Islam adalah contoh nyata seseorang yang dikendalikan oleh amarahnya sendiri.

Titik balik Umar terjadi ketika ia mendengar lantunan Al-Qur’an dari Surah Thaha. Ayat, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14) mengguncang jiwanya. Dari sinilah perubahan besar itu dimulai.

Transformasi Umar setelah Islam: Emosi yang Terkelola

Setelah memeluk Islam, Umar tidak kehilangan ketegasannya. Namun, emosinya berubah arah. Amarahnya tidak lagi destruktif, melainkan menjadi kekuatan untuk membela kebenaran. Ia marah ketika melihat kezaliman, tetapi mampu menahan diri dalam urusan pribadi.

Umar dikenal tegas dalam menegakkan hukum, namun sangat lembut kepada kaum lemah. Ia bisa menangis ketika membaca Al-Qur’an, tetapi berdiri kokoh saat membela umat. Inilah bentuk manajemen emosi yang matang: emosi tidak dihilangkan, tetapi dikendalikan dan diarahkan.

Puasa memiliki tujuan yang sama, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183: “Agar kamu bertakwa.” Takwa lahir dari kemampuan mengendalikan dorongan nafsu, termasuk kemarahan.

Pelajaran Manajemen Emosi dari Umar bin Khattab

Ada beberapa prinsip penting yang dapat dipetik dari keteladanan Umar. Pertama, mengenali pemicu emosi. Umar memahami karakter dirinya sehingga berhati-hati agar tidak mudah terprovokasi. Dalam puasa, mengenali pemicu—seperti kemacetan, antrean, atau perbedaan pendapat—membantu seseorang mengantisipasi ledakan emosi.

Kedua, mengingat tujuan besar. Umar selalu menempatkan ridha Allah sebagai prioritas. Dalam puasa, mengingat bahwa setiap kesabaran bernilai pahala dapat menjadi peredam amarah yang ampuh.

Ketiga, mengikuti ajaran Nabi untuk berwudhu saat marah. Rasulullah SAW bersabda bahwa marah berasal dari setan dan dapat dipadamkan dengan air. Umar dikenal mempraktikkan ajaran ini dengan konsisten.

Keempat, memilih diam. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah, maka diamlah.” Umar sering menunda respons hingga emosinya mereda, sebuah teknik yang juga dikenal efektif dalam psikologi modern.

Kelima, membaca ta’awudz. Umar memahami bahwa kemarahan yang tak terkendali sering kali merupakan bisikan setan, sehingga perlindungan kepada Allah menjadi kunci.

Relevansi Keteladanan Umar di Era Modern

Di era digital, pemicu emosi semakin banyak: media sosial, komentar negatif, dan arus informasi yang memancing amarah. Kisah Umar menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Ramadan menjadi momentum untuk “reset” emosional, melatih diri agar tidak dikuasai impuls sesaat.

Kemarahan tidak selalu tercela. Umar marah ketika melihat kemungkaran, bukan karena ego pribadi. Inilah kemarahan yang proporsional: marah karena Allah, untuk memperbaiki, bukan merusak.

Dengan meneladani Umar bin Khattab, puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan haus, tetapi membentuk pribadi yang matang secara emosional. Ketika Ramadan berlalu, harapannya bukan hanya kebiasaan makan siang yang hilang, tetapi juga kebiasaan marah yang tidak perlu.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Bukayo Saka Resmi Teken Kontrak Jangka Panjang di Arsenal

Bukayo Saka Resmi Teken Kontrak Jangka Panjang di Arsenal

Peringatan Martin Keown Arsenal Harus Reset Mental Juara Liga Primer

Peringatan Martin Keown Arsenal Harus Reset Mental Juara Liga Primer

Manchester United Incar Mane dan Gordon Demi Target Liga Champions

Manchester United Incar Mane dan Gordon Demi Target Liga Champions

Manchester United Khawatir Sponsor Baru Pergi Akibat Kontroversi Jim Ratcliffe

Manchester United Khawatir Sponsor Baru Pergi Akibat Kontroversi Jim Ratcliffe

Real Madrid Siapkan 250 Juta Euro Guncang Bursa Transfer Musim Panas

Real Madrid Siapkan 250 Juta Euro Guncang Bursa Transfer Musim Panas