Danantara Rampingkan Pertamina Demi Fokus Jaga Ketahanan Energi Nasional

Danantara Rampingkan Pertamina Demi Fokus Jaga Ketahanan Energi Nasional
Danantara Rampingkan Pertamina Demi Fokus Jaga Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA - Era baru pengelolaan aset negara melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mulai membawa perubahan fundamental bagi wajah industri energi tanah air. PT Pertamina (Persero), sebagai pilar utama kedaulatan energi nasional, kini tengah memasuki fase restrukturisasi besar-besaran untuk menanggalkan lini bisnis yang selama ini berada di luar kompetensi intinya. Langkah berani ini diambil untuk memastikan bahwa perusahaan minyak dan gas milik negara tersebut memiliki postur yang lebih lincah, adaptif, dan sepenuhnya terfokus pada mandat strategis: menjamin pasokan energi yang andal bagi seluruh rakyat Indonesia di tengah dinamika global yang kian tak menentu.

Transformasi Portofolio dan Pelepasan Bisnis Non-Inti

Di bawah komando Danantara, Pertamina dijadwalkan akan melepaskan sejumlah anak perusahaan yang tidak berkaitan langsung dengan sektor energi, seperti perhotelan, maskapai penerbangan, dan jasa asuransi. Upaya perampingan ini sebenarnya telah menunjukkan progres nyata. Berdasarkan data internal, dari total 257 perusahaan yang bernaung di bawah Pertamina pada tahun 2025, saat ini jumlahnya telah berkurang menjadi 242 entitas melalui skema merger maupun divestasi.

Baca Juga

Update Harga Buyback Emas Antam Naik Jumat 13 Februari 2026

Tahun ini, proses penataan portofolio tersebut diprediksi akan semakin masif. Sedikitnya terdapat 38 perusahaan lagi yang masuk dalam daftar rencana (pipeline) pelepasan, sambil menunggu instruksi teknis dari Danantara. Fokus utama dari transformasi ini adalah menghilangkan inefisiensi dan memastikan setiap unit usaha yang tersisa memiliki kontribusi langsung terhadap rantai pasok energi nasional.

Optimalisasi Sektor Energi di Tengah Tantangan Impor

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa langkah Pertamina untuk kembali ke bisnis inti merupakan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan performa perusahaan. Menurutnya, selama ini upaya serupa kerap terhambat oleh dinamika kepentingan karena posisi BUMN yang berada di bawah kementerian. Dengan berada di bawah pengelolaan Danantara, diharapkan Pertamina dapat lebih leluasa mengejar target-target teknis sektor migas.

”Dari sisi positif, Pertamina dapat lebih fokus pada bisnis inti sekaligus meningkatkan efisiensi. Pengelolaan usaha minyak dan gas bumi serta energi terbarukan berpotensi menjadi lebih optimal, baik dalam kontribusinya terhadap penerimaan negara maupun dalam memperkuat ketahanan energi,” ujar Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Kamis. Fokus tajam ini krusial untuk menangani tantangan produksi minyak domestik, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan harian.

Urgensi Riset dan Pengembangan untuk Daya Saing Global

Selain efisiensi biaya, perampingan bisnis juga diharapkan memberikan ruang bagi Pertamina untuk memperkuat aspek kompetensi teknologi. Pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menekankan bahwa pemisahan bisnis non-inti akan memungkinkan Pertamina untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya pada riset dan pengembangan (R&D), terutama dalam menghadapi era transisi energi terbarukan.

Energi memegang peran strategis sebagai fondasi aktivitas industri dan transformasi digital global. Oleh karena itu, Pertamina didorong untuk tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga berani melakukan ekspansi usaha ke pasar internasional. Penguatan R&D menjadi kunci utama agar Pertamina memiliki daya saing yang sejajar dengan perusahaan energi global lainnya dalam hal inovasi dan efisiensi produksi.

Peta Jalan Perampingan dan Sinergi Aset Negara

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menegaskan bahwa perusahaan telah memiliki peta jalan (roadmap) yang jelas terkait proses perampingan ini. Ia menekankan bahwa prinsip utama dari setiap entitas yang dipertahankan adalah kontribusinya terhadap ketahanan energi, seperti Terminal LPG Tanjung Sekong yang melayani 40 persen kebutuhan nasional.

Terkait pelepasan aset, Agung merincikan bahwa 12 entitas dari PT Pertamina Bina Medika IHC serta rencana merger Pelita Air dengan Garuda Indonesia menjadi prioritas dalam rencana kerja tahun ini. ”Hal tersebut merupakan salah satu arahan dari Danantara yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Danantara Asset Management. Selain itu, aset lain yang sedang dikaji meliputi unit hotel dari Patra Jasa serta sektor asuransi melalui PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (ATPI). Terkait asuransi, saat ini pembicaraan sedang berlangsung dengan Indonesia Financial Group (IFG). Namun, kami tetap berkomitmen memastikan bisnis asuransi tersebut senantiasa mendukung operasionalisasi migas,” jelas Agung pada Rabu.

Integrasi Subholding Hilir untuk Ekosistem yang Berkesinambungan

Langkah konkret menuju efisiensi juga telah dilakukan di sektor internal dengan penggabungan beberapa sub-holding. Pada awal Februari 2026, Pertamina resmi menyatukan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) menjadi satu kesatuan sub-holding downstream.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa integrasi ini bertujuan untuk menghilangkan redundansi dan mempercepat layanan pasokan energi dari Sabang sampai Merauke. ”Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi. Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal,” ujar Simon pada Rabu.

Mewujudkan Tata Kelola Berstandar Tinggi

Visi besar perampingan ini selaras dengan kebijakan CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang menargetkan pengurangan jumlah total perusahaan di bawah kelolaannya dari 1.000 menjadi sekitar 300 perusahaan saja. Rosan menekankan pentingnya kualitas dibandingkan kuantitas dalam pengelolaan aset negara. Dengan jumlah yang lebih sedikit, setiap perusahaan dapat dikelola dengan standar transparansi, akuntabilitas, dan integritas yang lebih tinggi.

Keberhasilan transformasi ini pada akhirnya akan sangat bergantung pada disiplin perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional dan keberlanjutan layanan publik. Dengan fokus yang kembali ke khitah sebagai pengelola energi nasional, Pertamina diharapkan mampu menjawab tantangan geopolitik dan transisi energi dengan lebih percaya diri, sekaligus memberikan nilai tambah maksimal bagi kemakmuran bangsa.

David

David

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

15 Rekomendasi Takjil Ramadan 2026 Paling Laris untuk Ide Jualan

15 Rekomendasi Takjil Ramadan 2026 Paling Laris untuk Ide Jualan

Strategi UMKM Kuliner Tingkatkan Penjualan Takjil di Ramadan 2026

Strategi UMKM Kuliner Tingkatkan Penjualan Takjil di Ramadan 2026

Klasemen Liga Inggris: Arsenal Ditahan Brentford, Manchester City Terus Menekan

Klasemen Liga Inggris: Arsenal Ditahan Brentford, Manchester City Terus Menekan

Ancaman Manchester City dan Memori Kelam Gelar Juara Arsenal 2026

Ancaman Manchester City dan Memori Kelam Gelar Juara Arsenal 2026

Manchester United Tegaskan Inklusivitas Usai Komentar Kontroversial Sir Jim Ratcliffe

Manchester United Tegaskan Inklusivitas Usai Komentar Kontroversial Sir Jim Ratcliffe