Hotspot Karhutla Riau Turun drastis ke 223 Titik, Pelalawan Masih Tertinggi dengan 91 Titik

Petugas memantau titik panas karhutla di Riau yang tercatat 223 titik hingga Rabu pagi.
Penulis: Redaksi
Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21:01 WIB

PEKANBARU — BMKG Pekanbaru mencatat penurunan drastis jumlah hotspot di Riau. Berdasarkan pemantauan hingga Rabu (26/8/2026) pukul 07.00 WIB, total titik panas terdeteksi 223 titik, turun lebih dari setengah dibanding data sebelumnya yang mencapai 491 titik.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyebutkan konsentrasi titik panas masih terkonsentrasi di tiga kabupaten. "Kabupaten Pelalawan masih menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 91 titik. Selanjutnya Indragiri Hilir dengan 45 titik dan Bengkalis sebanyak 35 titik," ujarnya.

Sebaran Hotspot di 12 Kabupaten dan Kota Riau

Selain tiga wilayah utama tersebut, titik api juga terdeteksi di sejumlah daerah lain dengan intensitas lebih rendah. Data BMKG merinci sebaran hotspot sebagai berikut:

  • Indragiri Hulu: 17 titik
  • Kampar: 8 titik
  • Kuantan Singingi: 8 titik
  • Kepulauan Meranti: 7 titik
  • Kota Dumai: 5 titik
  • Rokan Hilir: 3 titik
  • Rokan Hulu dan Siak: masing-masing 2 titik

Riau Bukan yang Terparah di Sumatera

Di tingkat regional, Riau menempati posisi kedua dengan 223 titik panas. Jumlah ini jauh di bawah Sumatera Selatan yang mencatatkan 1.522 hotspot, menjadikannya wilayah dengan karhutla terluas di Pulau Sumatera.

Wilayah lain yang turut terdampak adalah Jambi dengan 222 titik, Lampung 208 titik, Bangka Belitung 193 titik, Kepulauan Riau 47 titik, dan Bengkulu 32 titik. Total titik panas di Sumatera mencapai 2.461 titik.

Hujan Diprediksi Turun, Bisakah Meredam Karhutla?

Penurunan jumlah hotspot ini terjadi bersamaan dengan potensi hujan yang diprakirakan BMKG melanda sejumlah wilayah Riau pada Rabu. Intensitas hujan ringan hingga sedang berpeluang turun di beberapa daerah, bahkan hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi pada malam hari.

Meski demikian, BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap waspada. Data hotspot merupakan indikator awal yang perlu ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya, mengingat titik api bisa kembali muncul jika lahan gambut masih terbakar di bawah permukaan.

Reporter: Redaksi