46 Titik Panas Masih Terpantau di Riau, Bengkalis dan Pelalawan Jadi Wilayah Terbanyak

Petugas BMKG Pekanbaru memantau 46 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Riau pada Jumat (14/8/2026).
Penulis: Sutomo
Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:25:31 WIB

PEKANBARU — Penurunan signifikan jumlah titik panas terjadi di Riau dalam sehari terakhir. Data Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yudhistira M, menunjukkan angka 46 hotspot pada Jumat (14/8/2026), menyusut tajam dari 158 titik yang terdeteksi sehari sebelumnya.

Meski berkurang, sebaran titik panas masih merata di sejumlah kabupaten/kota. Bengkalis mencatatkan diri sebagai wilayah dengan hotspot terbanyak, mencapai 16 titik, disusul Pelalawan dengan 11 titik.

Sebaran Titik Panas di Delapan Kabupaten

Data BMKG Pekanbaru merinci lokasi persebaran titik panas di Riau. Selain dua wilayah tertinggi, titik panas juga terpantau di Kampar dan Kuantan Singingi yang masing-masing mencatat lima titik.

  • Bengkalis: 16 titik
  • Pelalawan: 11 titik
  • Kampar: 5 titik
  • Kuantan Singingi: 5 titik
  • Rokan Hulu: 4 titik
  • Rokan Hilir: 2 titik
  • Siak: 2 titik
  • Indragiri Hilir: 1 titik

Kondisi Hotspot di Pulau Sumatera

Penurunan serupa juga terjadi di tingkat Pulau Sumatera. Total hotspot di wilayah itu berkurang dari 1.097 titik menjadi 489 titik dalam periode yang sama.

Sumatera Selatan masih menjadi provinsi dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni 189 titik. Disusul Lampung dengan 116 titik, Bengkulu 32 titik, Sumatera Utara 27 titik, Sumatera Barat 26 titik, Jambi 24 titik, Bangka Belitung 20 titik, Aceh tujuh titik, dan Kepulauan Riau dua titik.

Kewaspadaan Karhutla Tetap Diperlukan

Yudhistira M mengingatkan tren penurunan ini merupakan perkembangan positif dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, keberadaan titik panas di sejumlah wilayah tetap menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.

BMKG Pekanbaru terus memantau dinamika titik panas dan kondisi cuaca terkini di Riau. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, mengingat dampaknya yang luas terhadap kualitas udara dan kesehatan.

Reporter: Sutomo