Simak Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa, 10 Maret 2026
- Selasa, 10 Maret 2026
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026.
Dalam beberapa waktu terakhir, mata uang Garuda menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memantau secara cermat arah pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Fluktuasi nilai tukar sering dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, termasuk pergerakan harga komoditas, kebijakan moneter negara maju, hingga perkembangan geopolitik internasional. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor biasanya cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Baca JugaHarga Emas Antam Hari Ini Selasa 10 Maret 2026 Melonjak, Tembus Rp3.047.000 per Gram
Situasi ini berdampak pada sejumlah mata uang di kawasan Asia yang mengalami tekanan terhadap dolar AS. Rupiah pun tidak terlepas dari pengaruh tersebut, sehingga pergerakannya diperkirakan masih akan berada dalam kondisi volatil dalam jangka pendek.
Perkiraan Pergerakan Rupiah Hari Ini
Nilai tukar Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2026) di tengah penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak pada kisaran Rp16.950–Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pada perdagangan sebelumnya, Senin (9/3/2026), rupiah ditutup melemah 0,14% ke level Rp16.949 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Sementara itu, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tercatat menguat 0,27% ke level 99,24.
Pergerakan tersebut mencerminkan adanya tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, di tengah penguatan dolar AS.
Mayoritas Mata Uang Asia Turut Melemah
Pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga tertekan terhadap dolar AS.
Yen Jepang melemah 0,40%, dolar Singapura turun 0,20%, dolar Taiwan melemah 0,67%, won Korea Selatan turun 0,50%, peso Filipina melemah 0,82%, dan rupee India turun 0,58%.
Selain itu, yuan China terkoreksi 0,15%, ringgit Malaysia melemah 0,42%, dan baht Thailand turun 0,58%.
Hanya dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,11% terhadap dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional terjadi secara luas, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran preferensi investor terhadap aset yang dianggap lebih aman.
Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik
Ibrahim menjelaskan penguatan dolar AS dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia.
Lonjakan harga minyak tersebut dipicu oleh langkah Iran yang memblokir Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama bagi sebagian besar negara Asia.
Potensi penutupan selat tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Di sisi lain, dinamika politik di Iran juga menambah ketidakpastian pasar.
Iran pada Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi, yang dinilai menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kombinasi antara ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi global membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Sentimen Global Menekan Pasar Keuangan Indonesia
Dalam catatan Bloomberg, tekanan terhadap rupiah sepanjang hari kemarin dikarenakan investor global sedang mencari aset aman.
Pada Senin, rupiah sempat merosot hingga 0,6% ke level Rp17.015 per dolar AS, melewati level yang terakhir terlihat sejak krisis keuangan Asia pada 1998.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan juga sempat tertekan menyentuh 5% sebelum akhirnya berbalik mengurangi kerugian, menempatkan indeks acuan tersebut di jalur menuju fase pasar bearish karena secara akumulatif sudah turun lebih dari 20% ytd.
Analis valuta asing di Malayan Banking Alan Lau mengatakan memburuknya sentimen risiko global akibat lonjakan harga minyak telah menekan pasar valuta asing Asia, termasuk rupiah.
“Dalam jangka pendek, faktor eksternal tetap menjadi kunci karena risiko kenaikan harga minyak lebih lanjut dapat membuat pasar tetap waspada terhadap mata uang tersebut,” katanya.
Sentimen investor terhadap aset Indonesia juga tertekan oleh sejumlah peringatan lembaga pemeringkat global.
MSCI mengisyaratkan kemungkinan penurunan peringkat pasar karena masalah likuiditas dan rendahnya free float saham, sementara Moody's memangkas prospek kredit Indonesia terkait arah fiskal dan kebijakan ekonomi.
Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Fitch Ratings yang turut menurunkan prospek peringkatnya.
Berbagai faktor tersebut membuat pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan dari sentimen global, sehingga pergerakan rupiah diperkirakan tetap berada dalam kondisi fluktuatif pada perdagangan hari ini.
Mazroh Atul Jannah
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prabowo Bahas Ketahanan Pangan dan Energi Saat Ratas Hambalang Jelang Lebaran
- Selasa, 10 Maret 2026
Berita Lainnya
Prabowo Bahas Ketahanan Pangan dan Energi Saat Ratas Hambalang Jelang Lebaran
- Selasa, 10 Maret 2026
Beredar Jadwal Pendaftaran CPNS 2026 di Media Sosial, Ini Klarifikasi BKN
- Selasa, 10 Maret 2026







