JAKARTA - Dunia mode sering kali menyimpan ironi yang mengejutkan di balik lipatan sejarahnya. Salah satu anomali paling menarik adalah evolusi high heels atau sepatu hak tinggi. Bagi masyarakat modern, alas kaki ini adalah representasi mutlak dari keanggunan dan feminitas wanita. Namun, jika kita menelusuri lorong waktu ke seribu tahun yang lalu, kita akan menemukan fakta yang sangat kontradiktif. High heels pada awalnya bukanlah instrumen untuk mempercantik gaya berjalan di atas panggung busana, melainkan sebuah peralatan teknis yang lahir dari kerasnya medan pertempuran dan dominasi maskulinitas.
Fungsi Taktis di Medan Laga Abad ke-10
Asal-usul sepatu hak tinggi dapat ditarik hingga abad ke-10, jauh dari pusat mode Eropa. Fakta sejarah mencatat bahwa pasukan kavaleri Persia adalah kelompok pertama yang mengintegrasikan hak pada alas kaki mereka. Penggunaan ini sama sekali tidak berkaitan dengan estetika, melainkan murni untuk kebutuhan fungsional militer yang garang.
Baca JugaKumpulan 5 Khutbah Jumat untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2026 dengan Dalil
Pada saat itu, prajurit berkuda memerlukan stabilitas ekstra agar kaki mereka tetap kokoh dan tidak tergelincir saat berpijak di sanggurdi (stirrup) kuda. Posisi kaki yang stabil sangat krusial, terutama ketika mereka harus berdiri di atas kuda untuk membidikkan panah dengan akurasi tinggi. Dengan demikian, sebelum menjadi pelengkap gaun malam, heels adalah alat vital yang membantu para prajurit untuk melumpuhkan musuh di medan perang dengan lebih presisi.
Simbol Kekuasaan dan Status Sosial Bangsawan Eropa
Transformasi high heels dari alat perang menjadi simbol gengsi terjadi ketika tren ini merambah Eropa pada abad ke-17. Pada masa itu, fungsi praktisnya mulai bergeser menjadi instrumen politik dan penanda derajat sosial. Tokoh sentral yang menjadi penggerak tren ini tidak lain adalah Raja Louis XIV dari Prancis.
Sang Raja, yang memiliki tinggi badan sekitar 160 cm, menggunakan hak sepatu setinggi 10 cm untuk mengompensasi postur tubuhnya sekaligus menunjukkan otoritasnya yang absolut. Uniknya, Louis XIV memerintahkan agar hak sepatunya dicat dengan warna merah—sebuah warna yang melambangkan kekuasaan dan kemewahan yang mahal. Di era tersebut, ketinggian hak sepatu berbanding lurus dengan kasta seseorang. Rakyat jelata dilarang keras meniru gaya sang raja, terutama dalam penggunaan warna merah atau ketinggian hak yang menyamai milik penguasa. Sepatu hak tinggi menjadi cara bagi kaum bangsawan untuk "berada di atas" rakyat secara harfiah maupun kiasan.
Pergeseran Gender dan Adopsi Elemen Maskulin oleh Wanita
Memasuki abad ke-18, narasi penggunaan heels mulai mengalami perubahan drastis dalam konteks gender. Muncul gerakan di mana wanita mulai mengadopsi elemen-elemen busana yang sebelumnya eksklusif bagi pria, termasuk sepatu hak tinggi. Menariknya, motif awal wanita mengenakan heels adalah sebagai upaya untuk terlihat lebih maskulin, berwibawa, dan menunjukkan kesetaraan intelektual dengan kaum pria.
Namun, seiring dengan berkembangnya pemikiran mengenai kepraktisan dalam gaya hidup modern, kaum pria mulai meninggalkan tren ini. Mereka menganggap sepatu hak tinggi tidak efisien untuk aktivitas sehari-hari yang memerlukan mobilisasi cepat. Sejak saat itulah, pria beralih ke alas kaki yang lebih datar dan fungsional, sementara high heels justru menetap dan berevolusi menjadi atribut permanen dalam lemari sepatu wanita hingga hari ini.
Estetika Visual dan Dampak Kesehatan yang Tersembunyi
Meskipun saat ini high heels dianggap mampu memberikan efek visual kaki yang terlihat lebih jenjang dan memperbaiki postur tubuh agar terlihat lebih anggun, perubahan fungsi ini membawa konsekuensi baru. Ironi sejarah ini berpuncak pada kenyataan bahwa alat yang dulunya membantu prajurit bergerak stabil di atas kuda, kini justru sering kali menyulitkan penggunanya untuk berjalan di permukaan datar.
Di balik keindahan dan kesan elegan yang ditampilkan, ada risiko kesehatan yang menyertai penggunaan hak tinggi dalam durasi lama. Estetika yang ditawarkan memang memberikan rasa percaya diri yang tinggi, namun sejarah mengingatkan kita bahwa ada harga yang cukup mahal yang harus dibayar untuk sebuah keanggunan. Evolusi dari alas kaki prajurit yang garang menuju simbol penampilan elegan ini menjadi salah satu bukti betapa cairnya makna sebuah simbol dalam kebudayaan manusia.
Relevansi High Heels di Era Modern
Kini, di tahun 2026, perdebatan mengenai penggunaan high heels terus berkembang. Sebagian melihatnya sebagai bentuk pemberdayaan dan pilihan gaya pribadi, sementara yang lain mulai mempertanyakan kembali aspek kenyamanannya sebagaimana pria pada abad ke-18. Walau bagaimanapun, sejarah panjang high heels membuktikan bahwa sebuah objek dapat melintasi batas-batas gender, kelas sosial, hingga fungsi yang sepenuhnya berbeda dari tujuan awal penciptaannya.
Memahami bahwa high heels dulunya adalah perlengkapan perang pria mungkin akan mengubah cara kita memandang sepasang sepatu cantik di etalase toko. Ia bukan sekadar aksesori mode, melainkan artefak sejarah yang telah menempuh perjalanan panjang dari debu pertempuran di Persia hingga karpet merah di Paris.
David
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut
- Jumat, 13 Februari 2026
Bank Indonesia Buka Pendaftaran Penukaran Uang Baru untuk Lebaran 2026 Mulai Hari Ini
- Jumat, 13 Februari 2026
Kumpulan 5 Khutbah Jumat untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2026 dengan Dalil
- Jumat, 13 Februari 2026
Berita Lainnya
Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut
- Jumat, 13 Februari 2026
Bank Indonesia Buka Pendaftaran Penukaran Uang Baru untuk Lebaran 2026 Mulai Hari Ini
- Jumat, 13 Februari 2026
Kumpulan 5 Khutbah Jumat untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2026 dengan Dalil
- Jumat, 13 Februari 2026
Perkiraan Jadwal Tarawih Pertama Ramadan 2026 Diwarnai Perbedaan Penetapan Sebelum Sidang Isbat
- Jumat, 13 Februari 2026
Terpopuler
1.
Amalkan 10 Doa Ini Selama Ramadhan Agar Puasa Lebih Bermakna
- 13 Februari 2026
2.
3.
Panduan Lengkap Cara Bayar Zakat Fitrah 2026 Online Lewat Baznas
- 13 Februari 2026
4.
Jadwal Tarawih Pertama 2026 Versi Muhammadiyah dan Pemerintah
- 13 Februari 2026
5.
Ocean by BCA Platform Digital Terintegrasi Dukung UMKM Naik Kelas
- 13 Februari 2026







