JAKARTA - Lanskap pasar modal global tengah menghadapi fase kecemasan baru yang dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pada pembukaan perdagangan akhir pekan ini, Jumat, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas terperosok ke zona merah. Fenomena ini merupakan imbas langsung dari sentimen negatif di Wall Street, Amerika Serikat, di mana para investor mulai mempertanyakan keberlangsungan model bisnis tradisional di tengah gempuran inovasi AI yang dinilai mampu mendisrupsi berbagai sektor industri.
Efek Domino Kekhawatiran AI di Pasar Regional
Pasar saham Asia bergerak bervariasi dengan kecenderungan menurun, mengikuti jejak bursa AS yang sudah lebih dulu tertekan. Investor di wilayah Asia kini tengah mencermati efek spillover atau dampak rambatan dari kekhawatiran global ini. Kondisi pasar terasa sedikit unik mengingat pasar Taiwan, yang selama ini menjadi pemain kunci di sektor rantai pasok AI global, sedang tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Baca JugaKumpulan 5 Khutbah Jumat untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2026 dengan Dalil
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 tercatat merosot hingga 1,02% pada awal perdagangan. Sementara itu, bursa Jepang juga mengalami tekanan; Nikkei 225 turun 0,58% setelah sebelumnya sempat mencapai level psikologis 58.000 pada perdagangan Kamis. Indeks Topix juga mencatatkan penurunan sebesar 0,58%. Di Korea Selatan, pergerakan terlihat kontras di mana indeks Kospi naik tipis 0,35%, namun indeks Kosdaq yang didominasi saham berkapitalisasi kecil justru anjlok 1,36%. Penurunan juga membayangi Hong Kong, dengan indeks berjangka Hang Seng berada di posisi 26.703, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di level 27.032,54.
Disrupsi AI Menjadi Mimpi Buruk bagi Sektor Tradisional
Sentimen negatif ini berakar dari performa buruk Wall Street yang telah mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut pada indeks S&P 500. Sebagaimana dilaporkan oleh CNBC Internasional, pasar saham AS mulai memetakan "korban" dari efisiensi yang ditawarkan oleh alat-alat AI baru. Kekhawatiran utama investor bukan lagi soal siapa yang akan menang dalam perlombaan AI, melainkan siapa yang akan tergilas karena bisnisnya dapat direplikasi atau margin keuntungannya tergerus oleh otomasi cerdas.
Beberapa sektor yang sebelumnya dianggap stabil kini mulai goyah. Saham perusahaan di bidang angkutan truk dan logistik, misalnya, mengalami koreksi tajam. Ada kekhawatiran besar bahwa alat AI generasi terbaru dapat memangkas inefisiensi pengangkutan secara drastis, yang pada akhirnya akan mengurangi permintaan terhadap layanan industri logistik konvensional. Tak hanya logistik, sektor real estat dan keuangan juga ikut terdampak. Pialang real estat komersial harus rela melihat nilai saham mereka terus merosot selama dua hari berturut-turut akibat spekulasi perubahan model bisnis di masa depan.
Kinerja Buruk Cisco dan Koreksi Indeks Utama
Tekanan di Wall Street semalam juga diperparah oleh rilis kinerja perusahaan teknologi raksasa. Dow Jones Industrial Average merosot sebesar 1,34%. Penurunan ini dipimpin oleh Cisco Systems yang sahamnya anjlok signifikan hingga 12%. Kejatuhan ini terjadi setelah manajemen Cisco mengeluarkan panduan bisnis (guidance) untuk kuartal tahun ini yang berada di bawah ekspektasi pasar, menambah beban sentimen negatif di tengah ketidakpastian dampak AI terhadap pengeluaran infrastruktur teknologi.
Fenomena "AI anxiety" ini mencerminkan perubahan paradigma di kalangan pelaku pasar. Jika tahun lalu investor sangat antusias dengan potensi pertumbuhan dari pemanfaatan AI, kini di awal 2026, mereka mulai melakukan kalkulasi ulang terhadap risiko kerugian yang mungkin timbul pada perusahaan-perusahaan yang gagal beradaptasi atau yang layanannya kini bisa digantikan oleh algoritma pintar.
Dampak Jangka Panjang bagi Stabilitas Pasar Asia
Bagi investor di Asia, kondisi ini menuntut kewaspadaan lebih tinggi terhadap pemilihan portofolio. Sektor-sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi di kawasan Asia-Pasifik kini harus membuktikan ketahanan mereka di hadapan disrupsi teknologi. Penurunan di awal perdagangan Jumat ini menunjukkan bahwa pasar Asia sangat sensitif terhadap perubahan narasi teknologi yang terjadi di pusat keuangan dunia.
Ke depan, pelaku pasar diprediksi akan terus mengawasi perkembangan alat AI baru dan bagaimana regulasi serta adopsi industri meresponsnya. Selama ketidakpastian mengenai besarnya dampak gangguan AI terhadap pendapatan perusahaan masih tinggi, bursa saham global, termasuk Asia, kemungkinan besar masih akan berada dalam pola pergerakan yang fluktuatif dan cenderung defensif.
Langkah konsolidasi kemungkinan akan terjadi jika perusahaan-perusahaan tradisional mampu menunjukkan strategi mitigasi terhadap ancaman AI. Namun, untuk saat ini, pasar tampaknya lebih memilih untuk melakukan aksi jual sebagai bentuk perlindungan diri dari ketidakpastian masa depan bisnis yang terancam oleh kecerdasan buatan.
David
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut
- Jumat, 13 Februari 2026
Bank Indonesia Buka Pendaftaran Penukaran Uang Baru untuk Lebaran 2026 Mulai Hari Ini
- Jumat, 13 Februari 2026
Kumpulan 5 Khutbah Jumat untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2026 dengan Dalil
- Jumat, 13 Februari 2026
Berita Lainnya
Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut
- Jumat, 13 Februari 2026
Bank Indonesia Buka Pendaftaran Penukaran Uang Baru untuk Lebaran 2026 Mulai Hari Ini
- Jumat, 13 Februari 2026
Kumpulan 5 Khutbah Jumat untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2026 dengan Dalil
- Jumat, 13 Februari 2026
Perkiraan Jadwal Tarawih Pertama Ramadan 2026 Diwarnai Perbedaan Penetapan Sebelum Sidang Isbat
- Jumat, 13 Februari 2026
Terpopuler
1.
Amalkan 10 Doa Ini Selama Ramadhan Agar Puasa Lebih Bermakna
- 13 Februari 2026
2.
3.
Panduan Lengkap Cara Bayar Zakat Fitrah 2026 Online Lewat Baznas
- 13 Februari 2026
4.
Jadwal Tarawih Pertama 2026 Versi Muhammadiyah dan Pemerintah
- 13 Februari 2026
5.
Ocean by BCA Platform Digital Terintegrasi Dukung UMKM Naik Kelas
- 13 Februari 2026







